Tiga Racun Kehidupan yang Sangat Berbahaya

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Eksposisi Surat Ibrani [15]
Tema: Tiga Racun Kehidupan yang Sangat Berbahaya
Nats: Ibrani 12:12-17

Ibrani 12 berbicara mengenai perjalanan pertumbuhan hidup kerohanian adalah sebuah perjalanan iman menuju kepada janji pengharapan yang pasti, yang sudah diteguhkan dengan jelas oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Dalam Ibrani 12:1-2 dia mengatakan, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan tahta Allah.” Berjalanlah dengan mata yang tertuju kepada Yesus Kristus; jangan lihat apa yang sedang engkau hadapi di dalam hidupmu, jangan lihat kepada hidup orang lain, jangan lihat kepada kegagalan diri dan kesuksesan orang yang kadang-kadang bisa membuat kita kehilangan fokus. Lihat kepada Yesus Kristus. Sehingga pada waktu di tengah perjalanan hidup itu kita mengalami kesusahan, kesulitan dan penderitaan dan mata kita fokus melihat kepada Kristus, hati kita dikuatkan dan dihiburkan karena kita tahu kita tidak sendirian; kita tahu Ia sudah mengalami semua dan kita berjalan mengikuti setiap tapak kakiNya. Sekaligus juga pada waktu kita melihat Dia, kita tidak lagi melihat Yesus yang menderita sengsara di kayu salib, yang pernah dihina dan diludahi. Yang kita lihat di depan adalah Yesus yang sudah bangkit dan sudah menang, yang duduk di sebelah tahta Allah Bapa dan semua malaikat sujud menyembah Yesus Kristus. Itulah sebabnya perjalanan kita sebenarnya adalah perjalanan kemenangan. Sekalipun ada hambatan, ada kegagalan, ada kekalahan, itu tidak akan pernah menghancurkan dan meruntuhkan kita.

Di dalam perjalanan iman kita, Allah sebagai Bapa memberikan latihan dan disiplin yang bertujuan untuk membawa kita menuju kedewasaan. Di situ perspektif kita harus jelas dan benar, walaupun berat dan susah disiplin itu, kita tahu Ia adalah Bapa kita. Sekalipun itu sangat sakit dan painful luar biasa, justru kita bersyukur kalau ada disiplin yang datang, cambuk yang tiba mencambuk kita, membuat kita sadar ada hal yang serius dan kita harus berbalik daripada kesalahan yang kita lakukan. Ibrani 12:11 berkata, “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Tidak selamanya hal-hal yang begitu mendukakan itu otomatis membawa kebaikan dan buah kebenaran dan menghasilkan rasa syukur dan damai sejahtera. Itu sangat bergantung kepada point yang penting di situ, yaitu: mereka yang rela dan mau dilatih olehnya. Jikalau orang itu tidak rela dan tidak mau dilatih olehnya, hal-hal seperti ini bisa justru menjadi luka yang membusuk yang tidak pernah sembuh dan menghasilkan luka yang lebih parah. Dia bisa menjadi akar yang sangat pahit yang tersembunyi di bawah permukaan namun bisa merusak pohon dan menghasilkan buah yang beracun.

Hari ini kita akan khusus melihat ada tiga racun yang sangat berbahaya yang bisa timbul berkaitan dengan bagaimana kita meresponi akan disiplin Allah. Ibrani 12:12-17 mengatakan, “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh. Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata” (Ibrani 12:12-17). Bagian ini berbicara mengenai bahaya racun itu tidak hanya merusak kehidupan pribadi orang itu tetapi juga merusak komunitas yang ada.

Racun kehidupan yang pertama, yang sangat berbahaya dalam perjalanan itu adalah hati yang lemah, yang putus asa, yang sudah tidak mau diangkat lagi karena kecewa atas beratnya disiplin dan didikan Tuhan kepadanya, atau bisa jadi karena perbuatan jahat orang lain yang mencederai dan merugikannya. Orang ini mulai negatif, mulai ragu, dan merasa sudah tidak ada harapan; tidak ada masa depan. Disiplin itu mungkin dirasakan begitu harsh, begitu berat dan tidak adil bagi dia, sehingga dia mempersalahkan Tuhan, dia mulai ragu kepada kebaikan Tuhan. Itu racun yang pertama.

Kita bisa melihat keadaan umat Israel seperti ini, dicatat dalam Bilangan 14:26-35 ketika dua belas pengintai dikirim oleh Musa masuk ke tanah Kanaan. Setelah 40 hari, mereka kembali untuk melaporkan apa yang mereka lihat. Sepuluh orang memberikan laporan yang negatif, membesar-besarkan hal yang tidak sepenuhnya benar dan menyebarkan keraguan. Mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami” (Bilangan 13:30-33). Sekalipun Kaleb berusaha menenangkan mereka, “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya,” mereka mengatakan, “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu karena mereka lebih kuat daripada kita!” Bilangan 14 mencatat reaksi umat Israel karena kata-kata dari sepuluh orang ini. “Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun” (Bilangan 14:1ff).] Betapa menyedihkan, bukan? Jadi perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir itu dimulai dengan nyanyian syukur umat itu dipimpin oleh Miriam (Keluaran 15), tetapi diakhiri dengan tangisan dan air mata. perkataan mereka telah merusak hampir semua orang Israel, padahal tinggal selangkah lagi mereka masuk ke tanah perjanjian. Akhirnya mereka harus berkeliling berputar-putar tanpa tujuan di padang gurun selama 40 tahun hanya untuk Tuhan menghukum semua orang yang berusia di atas 20 tahun untuk mati di sana oleh karena ketidak-percayaan mereka. Kita harus berhati-hati akan hal itu. Seringkali kita lebih gampang dan lebih mudah melihat bagaimana kita dilepaskan dari ketidak-berdayaan di situ kita bersyukur. Tetapi pada waktu kita mulai berjalan ikut Tuhan, bisa jadi kesulitan dan problema membuat kita merasa itu semua lebih besar daripada janji-janjiNya mengenai tanah perjanjian. Di dalam perjalanan kita ikut Tuhan, Tuhan kadang-kadang mendisiplin kita dengan satu tujuan supaya kita itu bersandar kepada kekuatan Tuhan semata-mata dan bukan kepada kekuatan diri kita. Yesaya 40:29-31 berkata: “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Jangan bersandar kepada kekuatan diri, jangan bersandar kepada uang dan kesehatan yang sebentar saja bisa hilang. Sandarlah kepada kekuatan Tuhan karena akan mendatangkankan kekuatan yang luar biasa. Kekuatan dan kuasaNyalah satu-satunya yang justru sanggup memberikan kepada kita kekuatan yang baru. Penulis Ibrani berkata, “kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh” (Ibrani 12:12) di sini menjadi panggilan bagi kita sebagai saudara seiman untuk saling menolong satu dengan yang lain; sebagai jemaat dan komunitas anak-anak Tuhan, mari kita menjadi orang-orang Kristen yang tidak meruntuhkan dan menjatuhkan pengharapan orang di tengah kesusahan mereka tetapi senantiasa membangkitkan pengharapan itu di dalam Tuhan Yesus Kristus. Mungkin mereka kecewa kepada pelayanan seseorang, atau mungkin mereka kecewa kepada pelayanan gereja lalu kemudian melihat hal itu kepada Tuhan; bawa mereka untuk bisa melihat dalam segala kelemahan dan kekurangan ini kita menjadi komunitas yang indah, kita boleh support satu dengan yang lain.

Racun kehidupan yang ke dua, yang sangat berbahaya dalam perjalanan itu adalah ketika orang-orang yang berada di tengah komunitas Kristen yang terus hidup dalam keduniawian, yang tidak pernah serius dan acuh tak acuh kepada segala peringatan firman Tuhan dan menganggap remeh disiplin dan teguran Tuhan. Orang-orang ini menjadi racun yang berbahaya karena bukan saja mereka hidup menjadi batu sandungan, tetapi mereka bisa mempengaruhi dan mencemarkan iman orang-orang Kristen yang masih lemah dan yang belum dewasa. Kita bisa melihat the root of bitterness karena hatinya menjadi pahit dan sinis kepada Tuhan. Itulah sebabnya penulis Ibrani mengingatkan orang-orang yang seperti ini kita harus layani dengan baik, tetapi pada saat yang sama kita juga diminta untuk hati-hati jangan sampai hati yang berespon dengan salah kepada pendidikan dan disiplin Tuhan, itu juga bisa merusak iman orang yang lain.

Penulis Ibrani mengatakan, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang” (Ibrani 12:15). Perhatikan di sini aspek “menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang.” Dalam Ulangan 29:18-19 Musa memberikan peringatan kepada umat Allah, “Sebab itu janganlah di antaramu ada laki-laki atau perempuan, kaum keluarga atau suku yang hatinya pada hari ini berpaling meninggalkan TUHAN, Allah kita, untuk pergi berbakti kepada allah bangsa-bangsa itu; janganlah di antaramu ada akar yang menghasilkan racun atau ipuh. Tetapi apabila seseorang pada waktu mendengar perkataan sumpah serapah ini menyangka dirinya tetap diberkati dengan berkata: Aku akan selamat, walaupun aku berlaku degil – dengan demikian dilenyapkannya baik tanah yang kegenangan maupun yang kekeringan.” Kata “sumpah serapah” terjemahannya lebih tepat adalah “the warnings of this curse” karena kata “sumpah serapah” dalam bahasa Indonesia berkonotasi negatif. Maksudnya, pada waktu itu Musa sedang berbicara kepada umat Allah mengenai berkat dan kutuk Allah; bahwa Allah akan memberkati orang yang takut akan Dia, yang setia berjalan di dalam kebenaran dan kekudusan, tetapi kutuk Allah akan jatuh kepada orang-orang yang meninggalkan Allah dan berbakti kepada allah bangsa-bangsa lain. Musa dengan keras memberi peringatan khususnya kepada orang-orang yang menganggap enteng dan berpikir mereka bisa hidup sembarangan dan memuaskan hasrat dan nafsu dari hati mereka yang degil, mereka merasa tenang-tenang saja, tidak ada apa-apa, sekalipun Tuhan sudah larang, Tuhan sudah peringatkan, tetapi peringatanNya tidak pernah terjadi di dalam hidupnya. Orang-orang ini hatinya telah berpaling dari Allah dan menyembah allah-allah lain dan menjadi akar yang pahit dan menyebarkan racun berbisa kepada komunitas umat Allah. Sebagian daripada jemaat penerima surat Ibrani mungkin seperti itu, hati mereka berpaling dari Tuhan, balik kembali kepada kehidupan yang lama sebagai orang Yunani atau Romawi menyembah berhala dan dewa-dewa, dan sebagian orang Kristen Yahudi masuk kembali kepada komunitas Yudaisme dan meninggalkan komunitas gereja. Orang-orang ini telah menghasilkan akar pahit yang meracuni hati dari komunitas orang percaya, menimbulkan kerusuhan dan pertengkaran, saling mempersalahkan dan mencemarkan anak-anak Tuhan yang ada.

Kata “akar pahit” juga kita lihat dari kalimat yang dipakai oleh Naomi kepada orang-orang di Betlehem ketika dia kembali dari Moab, “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku” (Rut 1:20-21). Kita tahu latar belakang dari kisah Naomi dari kitab Rut, bukan? Ketika terjadi kelaparan besar di daerah Betlehem dan sekitarnya, Naomi bersama keluarganya pindah ke Moab. Di sana anak-anak Naomi menikah dengan perempuan Moab, salah satunya adalah Rut. Dalam masa-masa itu, suami dan ke dua anaknya meninggal dunia, sehingga Naomi tidak memiliki siapa-siapa lagi dan memutuskan untuk kembali ke Betlehem. Pahit hidupnya, karena dia melihat tangan Allah yang Mahakuasa itu seolah menindas dia. Sebelumnya dia kaya raya, tangan penuh dan berlimpah tetapi sekarang dia telah kehilangan segala sesuatu dan semua itu mendatangkan kepahitan di hatinya. Akar yang pahit itu akan mendatangkan hal yang begitu merugikan bagi begitu banyak orang karena ketika hati kita pahit, kita menceritakan hal yang tidak baik mengenai Tuhan; kita kecewa kepadaNya; kita merasa Allah itu adalah Allah yang mempunyai maksud yang jahat di dalam hidup kita; Ia tidak peduli kepada hidup kita. Kata-kata kita yang pahit itu sanggup bisa mencemarkan iman banyak orang. Jangan biarkan kesusahan dan kesulitan, hal-hal yang tidak baik terjadi dalam hidup kita mendatangkan akar yang pahit dalam hidup kita. Kita harus melihat kebaikan dan anugerah Tuhan walaupun kita tidak melihat itu sekarang.

Racun kehidupan yang ke tiga, yang sangat berbahaya dalam perjalanan itu adalah ketika seseorang dengan murah mengganti hal yang kekal dengan hal yang sementara. Orang yang “short-sighted,” yang melihat hidup hanya kepada hal-hal yang materialistik, kepada segala harta dan benda yang ada di dunia ini. Orang seperti ini akan rela menjual atau menukarkan pengharapan dari janji kemenangan surgawi yang mulia dan indah dalam Yesus Kristus hanya dengan hal-hal yang ada sementara di dunia ini. Penulis Ibrani memberikan contoh keputusan Esau mengganti hak kesulungannya dengan semangkuk kacang merah, satu penukaran yang begitu tidak seimbang, yang berakibat sangat fatal baginya. “Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata” (Ibrani 12:16-17). Esau tidak menganggap hak kesulungannya sebagai hal yang paling berharga baginya. Esau berkata: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” (Kejadian 25:32). Esau memandang ringan hak kesulungan itu. Bagi dia laparnya yang sesaat itu lebih penting sehingga dia menukarnya dengan semangkuk kacang merah untuk mengenyangkan perutnya. Padahal kita mesti ingat, waktu Yakub masak sup kacang merah itu, Yakub sendiri sedang lapar, bukan? Itulah sebabnya dia masak, karena dia mau makan. Tetapi Yakub bisa menahan lapar bahkan rela untuk saat itu dia tidak makan demi untuk menukarnya dengan hak kesulungan yang baginya lebih berarti dan lebih berharga daripada makanan. Lapar itu cuma hal sementara, dia bisa tahan. Tetapi melihat janji Tuhan, sekalipun belum ada dan belum dia lhat, itu lebih berarti dan berharga.

Maka apa arti bagian ini? Racun yang berbisa bagi kehidupan rohani adalah ketika seorang mengaku sebagai orang Kristen, menjadi pengikut Tuhan, lalu berpikir bahwa itu berarti hidup lancar, sukses, tidak ada kesulitan; menjadi kaya raya dan terus diberi berkat materi di dalam dunia ini; orang itu melihat “Injil” hanya bersifat sementara, yang hanya memuaskan jiwa materialistik dia. Injil yang sejati bukan seperti itu; janji keselamatan Kristus tidak seperti itu. Sehingga pada waktu semua yang sementara itu tidak kita peroleh dan apa yang kita minta itu tidak terjadi, kita tetap sanggup untuk berkata: Tuhan, aku akan terus ikut Engkau. Aku masih bisa menahan lapar satu dua hari; itu tidak akan merusak jiwaku, kelaparan dan kekurangan hanya membuat aku sedikit lebih kurus daripada hari kemarin, tetapi aku tidak akan pernah mengganti Yesus Kristus dengan apapun. Aku tidak akan pernah mengganti janjiNya yang kekal itu dengan hal yang bersifat sementara adanya. Di tengah kesusahan dan kesulitan hidupnya, pemazmur berkata: “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mazmur 73:25-26).

Kiranya Tuhan pimpin hati kita masing-masing pada hari ini dan kiranya firmanNya pada hari ini menjadi “penawar” dari racun yang sangat berbahaya bagi kehidupan spiritual kita, sebagai obat yang manjur bagi hati yang pahit, sebagai vitamin yang menguatkan “immune system” dan “antibody” bagi rohani kita, melindungi dari segala macam “virus, bakteri dan parasit” yang bisa merusak dan menghilangkan sukacita dan pengharapan kita di dalam perjalanan ikut Tuhan. Taruhlah firmanNya baik-baik di dalam hati dan pikiranmu, dan jangan biarkan ada aura yang negatif, keragu-raguan yang negatif dan perasaan bitter dan resentment di dalam hidup kita dan menjadikan pekerjaan dan pelayanan Tuhan akhirnya menjadi terhambat di dalam kehidupan kita.

Kiranya firman Tuhan menjadikan hati kita penuh dengan sukacita, pikiran kita penuh dengan kebenaranNya yang indah, dan kehendak kita terus boleh berjalan seturut dengan bijaksana surgawi yang mempertumbuhkan kita dan makin mendewasakan kita. Dan kiranya semua bijaksana surgawi itu boleh berdiam dengan limpah dan kaya. Dan setiap ucapan syukur boleh mengalir dari hati kita yang terdalam, karena menyadari bahwa segalanya datang daripada Tuhan dan bagi Tuhan dan hanya untuk kemuliaan bagi Tuhan selama-lamanya.(kz)