Apa yang Terjadi pada Penghakiman Terakhir?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Eksposisi Surat Ibrani [12]
Tema: Apa yang Terjadi pada Penghakiman Terakhir?
Nats: Ibrani 10:26-39

Apa yang akan yang terjadi pada Penghakiman Terakhir? menjadi tema dari bagian perikop Ibrani 10:26-36 yang kita renungkan hari ini, dibingkai dengan dua kalimat; di ayat 25 “menjelang hari Tuhan yang mendekat,” dan di ayat 37, “Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatanganNya.” Tinggal sedikit waktu lagi Yesus akan datang kembali; jangan sampai kita kehilangan kesetiaan, jangan sampai kita patah arang di tengah jalan karena besar upah yang akan kita terima.

Ketika kita bicara mengenai hari penghakiman Tuhan akan tiba, Tuhan Yesus akan datang kembali, bagaimana pandangan orang luar kepada kita? Mungkin persepsi orang luar agak sedikit negatif terhadap orang Kristen, yang mereka anggap “narrow-minded” dan obsesi akan “doomsday,” hari kiamat segera akan tiba lalu berteriak di alun-alun kota, “Bertobatlah, hari Tuhan segera tiba. Itu adalah hari yang mengerikan dimana orang-orang akan binasa dan dihukum Allah!” Di awal sejarah Gereja Mula-mula, kita juga menemukan khususnya jemaat di Tesalonika yang karena berpikir Yesus akan segera datang kembali lalu mereka menjalani satu kehidupan Kristen yang salah. Mereka menjadi malas dan pasif, mereka menjadi parasit kepada orang Kristen yang lain; tidak mau bekerja, menumpang di rumah orang dan meminta makan dari jemaat sehingga hidup mereka membebani orang-orang Kristen yang lain. Rasul Paulus marah dan menegur mereka, tidak begitu caranya engkau mengerti hari Tuhan itu tiba dengan cara hidup seperti itu! “Kami katakan ini karena kami dengar bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasehati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri” (2 Tesalonika 3:11-13). Penulis Ibrani yang menasehatkan: marilah kita tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, marilah kita giat, marilah kita bertekun, jangan menjadi ciut, tetapi flourish, terus melayani Tuhan, menjadi berkat dalam hidup kita. Kenapa? Sebab hari Tuhan itu sudah dekat sekali. Setiap bangun pagi, kita harus mempunyai perspektif seperti itu. Yesus akan datang segera, tidak berarti kita terus tinggal di tempat tidur, lalu berdoa terus-menerus. Bangun, tunjukkan engkau adalah seorang yang rajin, aktif, giat bekerja, tulus dan jujur.

Apa yang akan yang terjadi ketika hari Tuhan tiba? Ada empat point yang kita perhatikan dari bagian Ibrani 10 ini. Point pertama, hari Tuhan itu adalah hari penghakiman Allah dimana murka Allah itu tiba atas dosa-dosa dan pelanggaran manusia. Penulis Ibrani ingatkan dengan sangat serius akan hal ini. “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu” (Ibrani 10:26). Perhatikan kata “sengaja berbuat dosa,” intentionally sinning. Ini bukan bicara tentang orang Kristen yang bisa lemah dan jatuh, yang berjuang untuk menang terhadap dosa dan terhadap godaan yang datang ke dalam hidupnya. Dia sedang menegur orang-orang yang sudah mempunyai pengetahuan akan kebenaran, namun tetap hidup berkanjang dalam dosa. Orang-orang itu bukan di luar gereja, tetapi itu adalah orang-orang yang setiap minggu mendengar firman dan mungkin aktif dalam pelayanan.

Hari Tuhan adalah hari penghakiman Allah yang murka terhadap dosa. Banyak orang mungkin mengalami kesulitan untuk memahami murka Allah. Mungkinkah Allah bisa marah dan murka dengan semena-mena, atau melakukan sesuatu seperti kita? Jawabannya: tidak. Alkitab berkata: Allah itu kasih. Allah itu adil. Allah itu suci. Inilah sifat dan natur Allah. “God is love,” love itu adalah esensi dan atribut daripada sifat Allah. Tetapi murka Allah bukan esensi dan atribut daripada sifat Allah. Murka adalah reaksi dari sifat keadilan dan kebenaranNya terhadap dosa. Ketika dosa tidak ada lagi, maka murka itu tidak ada lagi. Beda dengan sifatNya, Allah kasih, kasihNya tetap ada selama-lamanya; Allah adil, keadilanNya tetap ada selama-lamanya; Allah benar, kebenaranNya tetap ada selama-lamanya.

Injil itu adalah the Good News, Injil itu adalah kabar baik; tetapi ada ”bad news” di dalam “good news” daripada Injil. The bad news daripada Injil itu adalah ketika Injil ini dikabarkan, disampaikan, Injil itu tidak menjadi Injil yang dihargai dan diterima bahwa inilah cara Tuhan; di sinilah satu-satunya cara Tuhan membawa kita kembali bertemu Tuhan melalui darah Yesus Kristus. Hanya oleh darah Yesus Kristus saya boleh disucikan dan dibenarkan dari dosa-dosaku. Tetapi jikalau orang itu sudah dengar, sudah tahu, sudah mengerti betapa berharga darah dan pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib untuk mengampuni dan menebus dosa, dia terus dengan sengaja berbuat dosa dan hidup di dalam dosa, itu adalah kebahayaan yang paling menakutkan karena kalau demikian, maka orang itu akan menghadapi murka Allah. Yang ke dua, itu membuktikan orang itu memang bukan anak Allah yang sungguh-sungguh. Hari Tuhan tiba itu adalah hari dimana Tuhan akan menghukum orang yang terus-menerus berbuat dosa dan tidak pernah ada pertobatan di dalam hidupnya, dan jika itu terjadi kepada orang yang katanya percaya dan telah menerima Tuhan Yesus Kristus tetapi terus-menerus berbuat dosa, itu membuktikan orang itu bukan orang yang sungguh-sungguh pernah mengalami kelahiran baru dan pertobatan yang sungguh kepada Tuhan. Dia mengerti kata “kasih karunia,” “anugerah” sebagai pemberian dari Allah yang tidak layak diterima, tetapi hidup tidak sesuai dengan pengakuan itu.
Dietrich Bonhoeffer, seorang hamba Tuhan muda di Jerman yang ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Nazi pada masa Perang Dunia ke Dua karena dia berani berdiri dan melawan Nazi ketika mayoritas gereja-gereja di Jerman tidak berani untuk menegur dan mengkritik kekejaman yang dilakukan oleh Hitler kepada orang-orang Yahudi waktu itu. Dietrich Bonhoeffer berkata, “Cheap grace is grace without discipleship; grace without the cross; grace without Jesus Christ living and incarnate.” Anugerah yang murah adalah anugerah tanpa salib.

Kita yang sudah terima Tuhan, kita percaya dan tahu bahwa anugerah Allah semata-mata yang menyelamatkan kita, kita dapat anugerah sebab kita tidak sanggup bisa memperolehnya sekalipun itu gratis dan cuma-cuma tetapi anugerah itu begitu mahal dan berharga, kita tidak bisa beli dan bayar dengan apapun. Itu sebab Allah beri dengan cuma-cuma, karena kita seperti seorang anak perempuan kecil miskin yang hanya bisa melihat boneka yang dipajang di etalase toko, sambil membayangkan sedang bermain dengan boneka itu. Pemilik toko jatuh belas kasihan karena tahu anak itu terlalu miskin dan tidak akan mampu membelinya, maka dia mengambil boneka itu dan memberikannya dengan cuma-cuma kepada anak ini. Saya percaya, sampai di rumah, dia tidak akan ambil gunting dan menggunting rambut boneka itu dan merusaknya. Dia pasti akan menaruh boneka itu di dalam kotaknya, dia akan pamerkan kepada teman-temannya tetapi dia tidak akan mengijinkan seorang pun menyentuh bonekanya, karena boneka itu sangat berharga buat dia. That is supposed how you treat your salvation in Christ. Begitu sepatutnya engkau menghargai keselamatan yang engkau dapat dengan cuma-cuma dari Yesus Kristus, bukan? Orang yang bermain-main dengan dosa, orang yang hidup berkanjang dalam dosa, ketika hari penghakiman Tuhan tiba dan orang-orang seperti begitu akan menerima murka Allah yang mengerikan. Sehingga penulis Ibrani mengatakan, “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup” (Ibrani 10:31). Hari Tuhan tiba adalah hari dimana murka Allah itu turun terhadap dosa; hari dimana manusia yang menolak dan menghina kabar Injil Yesus Kristus yang telah disampaikan sebagai anugerah Allah menyelamatkan dia, maka hari itu dia akan mempertanggung-jawabkannya kepada Tuhan.

Point yang ke dua, dalam Ibrani 10:30, penulis Ibrani berkata, “Sebab kita mengenal Dia yang berkata: Pembalasan adalah hak-Ku, Akulah yang menuntut pembalasan, dan lagi: Tuhan akan menghakimi umatNya.” Dia mengutip ayat dari Ulangan 32:35, seperti juga rasul Paulus dalam Roma 12:19 mengutip hal yang sama.
Bagaimana kita berespon, apa yang akan terjadi nanti pada penghakiman terakhir? Hari Tuhan tiba, harus memberikan kita satu perspektif yang benar: apa yang Tuhan pikirkan dan apa yang Tuhan lihat pada hidup kita, itulah yang paling penting. Maka pertama-tama, kita perlu memperhatikan bagaimana kita hidup berelasi dengan Tuhan. Dalam bahasa Latin kita kenal kata ini: “Coram Deo,” living in the presence of the Lord. Karena kita tahu hari penghakiman Tuhan tiba dimana Allah, satu-satunya yang adil, akan mengadili semua manusia; sebagai anak-anak Tuhan marilah kita hidup dengan hormat dan takut di hadapan Allah. Di hadapan Allah tidak ada yang tersembunyi, semuanya terbuka dan telanjang di hadapanNya. Sebagai anak-anak Tuhan, kita jangan hidup tidak jujur dan tersembunyi; tidak boleh hidup dalam kemunafikan. Ini adalah hal yang penting luar biasa. Kita adalah manusia yang cenderung lebih memperhatikan apa yang dilihat dan dipikirkan orang ketimbang apa yang dilihat dan dipikirkan Tuhan tentang diri kita. Jika kita terus memikirkan bagaimana perspektif orang kepadamu, maka engkau akan terus mempertahankan dirimu disukai orang, engkau menjadi obsesi dan terus berusaha memperlihatkan penampilan eksternal tanpa peduli dan menyembunyikan segala kelemahan dan kekurangan sekalipun akhirnya hidup dalam kepalsuan dan kemunafikan.

Kita harus sedih dan prihatin, karena ini adalah kecenderungan yang bukan saja dilakukan oleh orang-orang Kristen biasa tetapi juga pada diri begitu banyak hamba Tuhan selebritis yang begitu mengutamakan karisma dan persona di hadapan orang. Tidak sedikit dari mereka menjadi orang-orang yang akhirnya menjadi batu sandungan yang luar biasa bagi orang-orang lain dan membuat nama Tuhan dicemooh dan ditertawakan dunia.

Jerome, seorang bapa Gereja di abad 5AD pernah mengingatkan hamba-hamba Tuhan yang muda, “Shun, as you would the plague, a cleric who from being poor has become wealthy, or who, from being nobody has become a celebrity.” Engkau yang mulai dengan humble beginning, dari seorang yang sederhana, miskin dan tidak dikenal, lalu keberhasilan dalam pelayanan membuatmu menjadi kaya dan terkenal. Hidup sebagai orang Kristen itu bicara mengenai sacrifice and integrity. Kita bukan bicara mengenai prosperity dan bukan bicara mengenai akumulasi. It is about faithfulness; it is not about fame. Ini bicara mengenai kesetiaan; bukan bicara mengenai ketenaran. Dan pada waktu ketenaran dan bagaimana pandangan orang, hormat orang, perspektif orang yang menjadikan kita selebriti Kristen akan mengangkat kita dan membuat kita lupa diri dan menjadi arogan. Dan di tengah-tengah itu kita mungkin permisif kepada akumulasi kekayaan. Di saat yang sama, godaan jatuh kepada seksualitas yang tidak benar itu bergandengan tangan dengan ketika orang mabuk kekayaan dan sukses dalam keuangan. Jikalau Jerome sudah mengingatkan bahaya pencobaan ini di awal sejarah Gereja, kalimat itu mengingatkan kepada kita, dia tahu itu bisa menjadi godaan yang sama sampai hari ini. Kenapa? Tidak ada habis-habisnya. Salah satu dasarnya adalah karena kita presentasikan apa kepada orang. Jangan. Yang terpenting dan terutama adalah apa yang Tuhan lihat kepada hidup kita, itu menjadi yang paling penting. Itu relasi yang utama dengan Tuhan, tidak ada lagi kemunafikan. Buang itu. Kita hanya menunda hari Tuhan tiba menelanjangi kita.

Ada orang sampai matinya dikenal sebagai seorang pengkhotbah yang besar, lalu setelah dia mati satu-persatu muncul orang-orang yang membongkar dan membukakan kehidupannya yang lalu dan itu membuat reaksi sebagian orang tidak senang: kenapa dibongkar, kan orangnya sudah mati?! Tetapi jangan lupa, semua akan dibongkar oleh Tuhan pada hari penghakimanNya. It is just a matter of time. Kenapa kita lebih takut dengan perspektif orang sehingga kita lebih memilih hidup dengan kemunafikan? Ketika kita ingat hari Tuhan mendekat, itu berarti kita perlu terus-menerus membereskan relasi kita dengan Tuhan, jalani hidup yang coram Deo hari ini. Always living in the presence of the Lord. Paulus mengatakan kepada para budak di Kolose, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah” (Kolose 3:22-24). Jangan lakukan sesuatu hanya supaya dilihat oleh tuanmu, lakukan dengan baik karena kamu tahu kamu mengerjakan itu bagi Tuhan. What matters nanti pada hari Tuhan adalah apa yang Tuhan lihat. Tetap bekerja dengan baik dan jujur sekalipun tidak dapat bonus. Tidak usah kecewa, ingat hari Tuhan sudah dekat, Ia akan membalaskan itu. Yang ke dua, jaga relasi dengan diri sendiri. “Pembalasan itu adalah hakKu,” demikian firman Tuhan. Hanya Allah satu-satunya hakim yang adil. Maka buang kepahitan karena engkau dirugikan oleh orang. Buang hati yang kecewa merasa engkau telah difitnah dengan tidak benar oleh orang-orang yang berkata jahat tentang engkau. Bersihkan dirimu dari kemarahan dan kepahitan itu. Kenapa? Karena pada hari Tuhan, Tuhan yang akan membalaskan semua itu. Maka konsep “the day of the Lord is near” no more bitterness, jangan lagi ada kepahitan menguasai hatimu. Yang ke tiga, bereskan relasimu dengan orang lain. Karena hari Tuhan sudah dekat. Tidak ada dendam; jangan balas dendam kepada orang. Anda dirugikan? Bagian Ibrani 10:32-34 katakan, “Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian. Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.” Karena hari Tuhan dekat, Tuhan ganti nanti dengan reward yang lebih besar. Jangan simpan kepahitan. Jangan pernah balas dendam kepada orang. Belajar untuk memiliki hati yang besar dan lapang, sehingga ketika orang melihat hidupmu sekalipun diperlakukan tidak baik, dihina, dijegal posisinya, ditahan bonusnya, engkau masih mendoakan mereka, itulah the true Christian in the office! Bukan berapa panjang jam doamu di kantor, tetapi apa yang kamu doakan di kantor, itu yang merubah hati orang. Jadikan orang tahu engkau adalah orang Kristen yang otentik seperti ini. Perlakuan yang tidak baik, engkau terima dengan sukacita. Tidak ada lagi dendam, karena hanya sebentar waktu, Tuhan akan kembalikan semua.

Point yang ke tiga, hari Tuhan tiba segera, itu harus merubah perspektif kita mengenai kematian. Kita hidup sekarang bukan untuk menunggu kapan kematian itu tiba; kita hidup sekarang menanti kapan Tuhan Yesus datang. Ada bedanya? Beda sekali! Kalau engkau menjalani hidup terus tunggu kapan mati, engkau hidup dalam ketakutan. Engkau terus berusaha menghindar akan kematian itu; engkau terus berusaha mau hidup selama-lamanya. Sehingga hidupmu engkau jalani dengan pesimis, penuh dengan kekuatiran dan kecemasan. Tetapi hidup Kristen berbeda. Karena kita tahu hari Tuhan tiba berarti perspektif kita terhadap kematian berbeda. Kita bukan dikenal karena kita itu orang yang berani melawan kematian, tetapi kita dikenal sebagai orang yang menghargai hidup sekarang dan menjalaninya dengan sebaik mungkin sebab hidup ini akan kita pertanggung-jawabkan di hadapan Tuhan. Kita menjalani hidup menanti kapan Yesus datang, hidup dengan optimis; hidup dengan pengharapan. Karena pada hari kedatanganNya itu Yesus akan menyelesaikan segala sesuatu yang ada dalam hidup kita sekarang ini. Pada waktu Yesus datang kembali tidak ada lagi sakit penyakit, tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi penderitaan dan ketidak-adilan. Dan kita tahu penderitaan yang kita alami sekarang tidak akan sebanding dengan apa yang akan kita terima nanti. Itu yang membuat perspektif kita berbeda melihat hidup ini.

Point yang terakhir, hari Tuhan adalah hari dimana kita menikmati “the great reard” upah yang telah Allah janjikan itu. Ibrani 10:35 berkata, “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.” Saat hari Tuhan tiba, kita tidak menantinya dengan takut tetapi kita menanti dengan penuh pengharapan karena kita tahu itulah saat kita menikmati “upah yang besar.” Ingatkan baik-baik, “besar” upahmu di sini jangan selalu diartikan dalam konotasi kuantitas, tetapi memahaminya dalam konotasi kualitas.

Banyak orang Kristen jatuh kepada konsep yang salah, bahwa nanti upahmu besar itu dalam bentuk materi seperti rumahnya lebih besar, mobilnya lebih besar, seperti pandangan yang umum ada di dunia. Akhirnya kita jatuh kepada konsep materialistik seperti itu sehingga kita berusaha menumpuk jasa di sini untuk memperoleh upah dari Tuhan di situ. Itu adalah konsep yang keliru. Great reward di situ berarti satu hal yang bersifat kualitas. Engkau akan memperoleh hati yang mengenal, memahami, menghargai kasih lebih dalam; engkau bisa menikmati keindahan dari banyak hal; engkau bisa mengapresiasi kemuliaan dan harta surgawi yang tersedia bagimu; joy, pleasure, grace that Jesus lavishly pours on us. Kiranya Tuhan pimpin dan berkati setiap kita sama-sama. Mengerti hari Tuhan tiba, tinggal sedikit waktu lagi, itu menjadi sukacita, pengharapan; itu menjadi energi yang mendorong dan menggerakkan hidup kita. Pengertian mengenai hari Tuhan menyentuh seluruh aspek hidup kita. Kiranya Tuhan memberi kita kekuatan, memberikan sukacita yang dalam dan menyembuhkan hidup kita. Sedikit waktu lagi, Tuhan Yesus akan datang segera datang dalam segala kemuliaan, hormat dan pujian, sebagai Anak Domba Allah, Singa dari Yehuda yang telah menang. Kita menantikan penggenapan kemenanganNya yang indah dan tuntas itu nyata di atas muka bumi ini dan dalam hidup kita.(kz)