MANGER: The Secret of Greatness

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: MANGER: The Secret of Greatness
Nats: Markus 10:35-45

“Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati; dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:28-29).

Hari ini mendekati Natal, saya mengajak setiap kita melihat kepada palungan Tuhan Yesus Kristus belajar rahasia keagungan diri Anak Allah. Saya percaya persepsi umum bicara mengenai greatness dari hidup seseorang adalah melihat sosok orang yang mulai merangkak dari bawah, lalu perlahan naik tangga sampai kepada puncak kesuksesan; itulah yang kita sebut sebagai hidup seorang yang agung, besar. Kisah-kisah orang seperti ini seringkali disebut “inspirasional” dan memberi semangat bagi banyak orang, bukan? Tetapi pada waktu melihat orang yang turun dari atas sampai ke tempat yang paling bawah, kita bilang itu adalah suatu kegagalan daripada kehidupan seseorang. Tetapi bukankah hidup Tuhan kita Yesus Kristus seperti itu adanya?
Pada waktu Hawaii menjadi negara bagian ke 50 dari Amerika Serikat di tahun 1959, ada dua patung yang mereka sumbangkan untuk dipajang di Capitol Hill di Washington D.C. Salah satu dari patung itu luar biasa “mengejutkan” karena dia bukan orang Hawaii asli, tetapi diajukan oleh negara bagian Hawaii sebagai perwakilan mereka karena bagi orang Hawaii inilah hati orang yang mencintai orang Hawaii lebih daripada orang Hawaii sendiri. Dan dia adalah Father Damien of Molokai, seorang pastor Katolik yang berasal dari Belgia yang mengabdikan dirinya melayani orang-orang kusta di pulau Molokai di kepulauan Hawaii tahun 1800-an. Dan di situlah Father Damien merawat dan melayani mereka. Dia berikan mereka kasih dan pengharapan sampai akhirnya dia sendiri terinfeksi oleh lepra dan meninggal pada usia 49 tahun. Orang Hawaii sangat menghargai orang ini sebagai seorang yang agung, yang melayani seperti Yesus Kristus.

Kita semua mau menjadi orang yang besar dan agung; sama seperti murid-murid Yesus juga mau menjadi orang yang besar dan agung. Tetapi di manakah kita meletakkan dan mengerti apa artinya “great” menjalani sebuah kehidupan yang agung? Saya percaya kita pasti akan menaruh kebesaran dan keagungan itu kepada kesuksesan dan hasil. Kita kagum dan terpesona kepada figur orang-orang yang sukses dan berhasil dalam karir, keuangan dan kekuasaan. Bukankah pada waktu murid-murid setelah selesai pelayanan misi, Lukas 10:17-20 mencatat mereka kembali dengan gembira kepada Yesus atas hasil yang mereka dapat. Saya percaya itu reaksi yang lumrah, bukan? Pada waktu kita melakukan pelayanan misi tentu kita akan menceritakan betapa luar biasa Tuhan bekerja di tengah-tengah orang yang kita layani. Sekalipun cape dan lelah, kita bersukacita dan tentu pada waktu kita menceritakan semua itu, jemaat juga akan bersukacita melihat betapa besar Allah berkarya dalam pelayanan misi itu. Sehingga semua kesuksesan seperti itu sanggup bisa membuat kita tidak lagi melihat sacrifice waktu, tenaga dan keuangan yang kita keluarkan. Tetapi pada waktu murid-murid kembali dari pelayanan mereka dan berbicara mengenai apa yang mereka raih dan dapat, kesuksesan dan hasil seperti itu, Yesus kemudian memberikan kalimat dan prinsip yang penting bagi murid-murid. Yesus berkata: janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga. Itulah hal yang lebih penting daripada hasil kesuksesan mereka. Tuhan ingatkan engkau dihargai oleh Tuhan bukan dari seberapa besar yang engkau hasilkan bagi Tuhan. Engkau dicintai oleh Tuhan bukan soal seberapa suksesnya engkau di dalam melayani dan mengikuti] Tuhan. Bicara mengenai grace, anugerah Tuhan yang kita terima dan dapat adalah karena nama kita dicatat di dalam kitab Kehidupan. Ini hal yang tidak gampang dan tidak mudah, bukan? Karena kita lebih mudah mendapatkan arti greatness itu di dalam kesuksesan dan keberhasilan. Kita menilai orang yang besar dan sukses di dalam posisinya, jabatannya, atau kuasanya. Kita ukur orang dari produktifitasnya, kalau dia bermanfaat, kalau dia mengerjakan sesuatu dan berhasil, kita ukur orang dengan nilai seperti itu. Tidak heran, seringkali para senior, mereka yang sudah pensiun, kemudian jatuh kepada perasaan mereka adalah orang yang sudah tidak berguna lagi karena sudah tidak lagi punya jabatan, tidak lagi punya kuasa, lalu kemudian menjadi kecewa. Jangan menilai dan melihat hidupmu dari kacamata dan sudut pandang seperti itu.

Seorang yang agung bukan diukur dan [bicara berapa banyak follower-nya, bukan dari berapa besar orang yang bisa dipengaruhi dia. Sekalipun mungkin dia hanya bisa memberkati satu dua orang yang ada di sekitarnya, dia adalah seorang yang agung dan besar. Seringkali di dalam pelayanan kita juga mengukur hidup kita baru berguna, hidup kita baru berhasil atau sukses berdasarkan posisi dan jabatan, dan kalau kita sudah tidak lagi duduk dalam jabatan, kalau kita sudah tidak lagi menjadi majelis gereja, kalau kita tidak lagi menjadi guru sekolah minggu, kalau kita tidak lagi menjadi youth worker di dalam pelayanan, lalu kita merasa peran kita sudah selesai dan kita tidak lagi melayani. Kita merasa diri tidak berguna oleh karena kita mengkaitkan kebesaran kita berkaitan dengan jabatan, berkaitan dengan posisi kita, berkaitan dengan apa yang kita bisa kerjakan dan lakukan di dalam jabatan, posis dan kuasa itu. Itulah yang Yakobus dan Yohanes bilang, kasih kita posisi dulu di sebelah kanan dan kiriMu; kasih saya posisi dulu untuk duduk di departemen ini dan itu, baru kemudian kebesaran saya, keagungan saya bisa muncul di situ. Yesus menegur mereka, “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:24-28). Dunia mengerti greatness itu adalah dari bawah merangkak naik ke atas; Yesus Kristus mendefinisikan greatness itu dari atas turun ke tempat yang paling bawah. Mungkinkah semakin kita menundukkan kepala dan mencuci kaki orang lain, kita menjadi orang yang lebih tinggi daripada yang lain? Mungkinkah kita bisa menjadi seorang budak yang berada pada posisi seperti itu dan pada saat yang sama justru itu menjadi kebesaran dan keagungan kita? Kita seringkali menjadi gereja dan menjadi orang Kristen yang gagal untuk melihat kebesaran ini oleh karena kita mencari makna dan arti kebesaran dan keagungan bukan kepada diri Kristus dan mengidentikkan apa yang Yesus kerjakan dan lakukan karena kita tidak menganggap itu sebagai hal yang bisa kita lakukan dan kerjakan dalam hidup ini. Pada waktu kita mendengarkan kalimat Yesus ini, kita berpikir Yesus mungkin sedang berbicara hanya kepada sekelompok murid elite, hanya untuk hamba Tuhan, para pendeta, bagi misionaris dan bagi mereka yang melayani, dan sudah pasti bukan untuk orang Kristen biasa karena kita tidak mungkin bisa menjalaninya dalam hidup kita sehari-hari. Tetapi Yesus berkata: Belajarlah daripadaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan engkau akan menemukan ketenangan bagi jiwamu (Matius 11:29). Sekalipun dunia mempunyai sistem dan cara menilai yang seperti ini. Tidak demikian dengan pengikut-pengikut Yesus. Jikalau dari semua kita sebagai hamba Tuhan, dari semua kita yang melayani memiliki sikap dan attitude mengidentikkan diri seperti Yesus Kristus, itu akan mempengaruhi kehidupan gereja kita sama-sama, dimana cara hidup gereja kita seperti itu. Kita seringkali juga berpikir lemah lembut, saling mengasihi, pengorbanan, itu hanya bisa dikerjakan di dalam gereja dan pelayanan, tetapi itu tidak berlaku pada waktu kita berada di luar. Gereja dinamakan “ekklesia” kita dipanggil keluar membawa pengaruh daripada lemah lembut, kebaikan, kesetiaan, servanthood attitude daripada Kristus di gereja itu ke dunia. Jangan terbalik. Yang terjadi adalah cara-cara dunia punya konsep kesuksesan, kehebatan, dsb menjadi tolok ukur penilaian kita di dalam gereja. Yang disebut great, agung, sukses dari cara dunia itu yang mempengaruhi hidup gereja. Kita harus menolak konsep ini. Mengapa? Oleh sebab pada waktu kita membaca murid-murid yang ikut bersama-sama dengan Tuhan Yesus, bagaimana Yesus harus perlahan-lahan mengikis konsep itu, bukan? Yakobus datang untuk minta posisi, Petrus juga sama, bukan? Masih dengan konsep seperti itu. Murid-murid sehabis pelayanan juga dengan konsep dunia yang sama; inilah yang namanya pelayanan yang berhasil. Setan-setan takut kepadaMu, dan begitu banyak hasil dari pelayanan kami. Guru, kami akan menjadi orang yang berarti dan berharga pada waktu kami berada dan duduk di dalam satu jabatan yang paling penting, Yesus berkata: kalau engkau ingin menjadi besar, jikalau engkau ingin terkemuka, biarlah kita mempunyai attitude sebagai seorang hamba. Rendah hati adalah topik yang suka dibicarakan buat orang lain, tetapi tidak untuk diri sendiri. Kita senang melihat orang yang rendah hati, tetapi kita tidak suka kalau kita sendiri diminta untuk rendah hati. Jadi sangat paradoks sekali bagian ini. Tidak ada yang menolak prinsip Yesus ini: kalau engkau ingin menjadi besar, jikalau engkau ingin terkemuka, jadilah sebagai seorang hamba. Tetapi dalam pikiran kita, itu berlaku buat orang lain dan bukan buat diri kita. Dan pada waktu disuruh terapkan kepada kita, kita yang tidak sanggup dan tidak rela untuk melakukannya. Saya rindu, saya mau, setiap kali orang datang ke gereja ini, mereka melihat attitude kita, pelayanan kita, sikap dari anak-anak Tuhan, pada waktu kita hampiri dia bukan karena dia asset dan karena kita ingin dia bisa masuk ke dalam gereja kita, dsb, tetapi karena itulah the true ministry yang kita berikan dan kita lakukan. Kita lebih memperhatikan dan mementingkan kepentingan orang lain. Kita tidak melayani orang berdasarkan pakaiannya, penampilannya, statusnya. Kita tidak cepat-cepat mempersilahkan dia duduk di depan karena kita tahu dia adalah orang yang prominent di masyarakat, orang kaya atau selebriti, dsb.

Kita bersyukur begitu banyak anak-anak Tuhan yang tidak dikenal namun melakukan semua pelayanan mereka dengan setia sampai akhir bukan karena ada yang melihat dan memperhatikan mereka. Kita bisa tahu apa yang mereka lakukan karena mereka menulis di dalam diary mereka atau dari surat-surat mereka. Tetapi sekarang di tengah dunia medsos dan kemajuan teknologi, kita mau pergi pelayanan ke kolong jembatan pun kita perlu bawa reporter dan kalau bisa kita undang semua wartawan dan stasiun televisi supaya pada waktu kita memberikan bantuan sosial itu, semua orang tahu the greatness di dalam pelayanan kita. Begitu banyak perbuatan orang yang tidak pernah diketahui orang lain karena dilakukan dengan diam-diam, tetapi itu tidak akan sia-sia karena Allah melihat dan menghargai hal itu.

Pada waktu jemaat Filipi mau mencari siapa yang lebih tinggi dan lebih hebat, siapa lebih sukses, dsb, Paulus kemudian memakai peristiwa kedatangan Yesus Kristus dari lahir sampai kematianNya di atas kayu salib sebagai pola dari kerendahan diri yang harus kita teladani dalam pelayanan kita, hidup kita sebagai anak Tuhan. Paulus berkata: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:2-10). Yesus bukan saja mengkhotbahkan kepada murid-muridNya attitude Kristen yang rendah hati dan kita melayani bukan untuk dilihat orang, bukan untuk menunjukkan sukses, bukan karena jabatan, bukan karena numbers, bukan karena kita mau dilihat besar, tetapi oleh karena kita tahu kebesaran itu berada di dalam kerendahan hati kita. Yesus menjalankannya, Yesus melakukannya. Itulah sebabnya Yesus berkata: belajarlah kepadaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Kenapa? Karena pada dasarnya itu bukan natur kita. Natur kita adalah pride dan sombong, dan itu adalah akar daripada dosa kita, bukan? Sekalipun kita memperhatikan orang lain tetapi kita tidak mau orang itu mengorek-ngorek apa yang ada di dalam hidup kita. Itu kesombongan kita. Tetapi firman Tuhan memanggil kita jangan hanya memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Membuang kesombongan kecongkakan diri akan menolong kita tidak memakai kepura-puraan melayani untuk membangun kesombongan kita karena dari awal kita sudah buang itu. Kebesaran kita diangkat ditinggikan itu bukan kita yang mengangkat diri tetapi karena Tuhan yang mengangkat kita dan Dia telah mengangkat kita dengan cara Dia terlebih dahulu sudah merendahkan diri bagi kita. Sehingga greatness, humility, kerinduan kita untuk menjadi servant bagi orang lain tidaklah harus menjadi perintah lagi sebab natur itu sudah diberikan kepada kita melalui Yesus mati menggantikan kita.
Yesus Kristus adalah raja yang agung dan mulia, namun Ia telah turun menjadi manusia, lahir di kandang dan dibaringkan di palungan binatang. Itu semua adalah gambaran Tuhan pakai sebagai satu realita apa artinya Anak Allah yang agung dan mulia itu turun ke dalam dunia yang hina menjadi manusia bahkan menjadi hamba yang paling rendah daripada semuanya. Maka Paulus kemudian mengatakan semua itu Yesus lakukan supaya kita boleh diangkat dan dimuliakan olehNya. Natal bukan saja menjadi momen kita menyatakan kasih dan perhatian bagi orang lain. Tetapi Natal itu bukan sekedar berbuat baik dan memperhatikan orang lain. Natal adalah satu pengorbanan dan misi Allah yang betul-betul merendahkan diriNya bagi engkau dan saya. Pada waktu Yesus berkata, “Tetelestai!” di atas kayu salib, artinya “Sudah selesai!” tetapi kalau mau diterjemahkan lebih akurat, sebenarnya itu adalah kata “Sold!” karena dari penggalian arkeologi ditemukan satu materai dari nota pembayaran ditempel tulisan ini “Tetelestai” or “Paid” or “Sold.” Sold berarti di kayu salib Ia sudah lunas membayar dan membeli kita, sehingga kita bukan lagi menjadi orang yang diperbudak oleh dosa.

Pada waktu penjualan budak masih terjadi di Amerika, orang-orang itu dijajakan di pasar budak. Salah satunya seorang budak perempuan umur 19 tahun di-auction. Sdr bisa bayangkan budak yang dibeli itu akan dijadikan apa, kita tidak tahu. Tetapi yang mengejutkan, ada seseorang kaya yang memberikan penawaran tertingi dan setelah menang, kemudian dia berkata kepada budak perempuan itu, “Now you are free, you can go. Engkau kubebaskan, pergilah sebagai orang merdeka.” Kita tidak bisa membayangkan betapa sukacita dan leganya budak itu! Kenapa orang kaya itu melakukan hal itu? Bukankah dia menderita kerugian dengan keputusan itu? Dia keluar uang yang banyak hanya untuk memberikan sebuah kebebasan bagi perempuan ini. Itulah arti “tetelestai.” Kenapa Tuhan, Raja yang agung datang ke dunia ini dalam kerendahan, lahir di palungan yang hina, mati di kayu salib, Ia menjadi budak untuk mengangkat identitas kita. Bagi saya panggilan Yesus meminta kita untuk menjadi hamba melayani dengan tidak berpikir untung rugi sacrifice di situ dan tanpa mempedulikan diri sendiri, itu bukan untuk merendahkan hidup kita tetapi justru mengangkat dan mengagungkan kita karena Ia sudah membeli dan membayar lunas hidup kita. Dan lebih daripada itu, satu kali kelak definisi Tuhan about the greatness of life sungguh dinyatakan kepada setiap kita. Setiap orang yang selama hidupnya di dunia berjalan di dalam ketaatan, di dalam kebenaran dan kerendahan hati, satu kali kelak Allah akan meninggikan dan menghargai hidup orang itu.

Apakah engkau ingin menjalani hidup yang bermakna? Jalani itu sekarang. Apakah engkau ingin menjalani hidup yang terhormat? Lakukan itu sekarang. Apakah engkau ingin menjadi seorang yang agung dan indah? Lihatlah kepada Yesus Kristus, Bayi yang terbaring di palungan itu; lihatlah kepada Ia yang tergantung dengan kehinaan di kayu salib itu. Ia telah memberikan contoh yang indah bagi engkau dan saya. Mulai dari satu dua orang, mempengaruhi sekelompok orang, mempengaruhi seluruh komunita gereja ini, dan kemudian mempengaruhi kehidupan kita di luar. Siapa bilang, bahwa servanthood itu tidak mungkin bisa kita kerjakan dan lakukan dalam hidup kita di luar? Yang ada, apakah kita rela dan bersedia atau tidak, karena attitude sikap hidup itu, harga, korban dan sacrifice itu menjadi bagian dari hidup kita yang harus kita jalani. Tetapi itu tidak perlu menjadi satu hal yang memberatkan dan merugikan engkau dan saya. Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati setiap kita masing-masing mengakhiri tahun 2020 ini melalui firmanNya sekali lagi membawa hati dan arah hidup kita. Jangan takut dan gelisah, sekalipun kita tahu pandemi ini telah membatasi banyak hal kehidupan kita, mungkin mempengaruhi semangat kita dalam pelayanan, dsb. Ke depannya mungkin kita akan banyak downsizing dalam ukuran, dalam program gereja, dalam persembahan, dalam aktifitas, dsb. Itu tidak masalah, sebenarnya. Yang tidak boleh downsizing itu adalah the servanthood spirit dalam hidup kita, karena itulah yang akan membuat banyak hal berkat yang tidak habis-habisnya mengalir dari dalam hidup kita sebagai seorang Kristen bagi dunia ini, memiliki hati yang penuh dengan syukur dan dedikasi yang dalam untuk melayani Tuhan di tahun yang akan datang. May God bless you!(kz)