Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Eksposisi Surat Ibrani [11]
Tema: The Habit of the True Worship
Nats: Ibrani 10:19-25
Hari ini kita akan melanjutkan eksposisi dari Ibrani 10:19-25 dengan tema “The Habit of the True Worship,” Kebiasaan dari sebuah Ibadah yang Sejati. Apa itu sebuah ibadah yang sejati? Yesus pernah berbicara tentang hal ini dengan seorang perempuan Samaria dalam Yohanes 4. Kita tahu konteks latar belakang pada waktu itu, orang Yahudi memiliki Bait Allah di Yerusalem sebagai tempat ibadah yang mereka banggakan. Mereka melihat lokasi Yerusalem sebagai kota suci dan Bait Allah dan ibadah yang begitu megah sebagai satu petanda di situlah keagungan kehadiran Allah. Pada saat yang sama, orang Samaria juga mempunyai tempat ibadah mereka di atas gunung yang mereka banggakan. “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah,” kata perempuan Samaria (Yohanes 4:20). Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepadaKu, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:21-24). Menyembah Allah dalam roh dan kebenaran itu bukan bicara soal eksternal apa yang ada di luar tetapi bicara soal internal, apa yang ada di dalam; bicara mengenai pembaharuan dan perubahan dalam hidup kita. Hari ini banyak orang Kristen bisa jatuh kepada aspek-aspek eksternal yang ada di luar lebih penting sehingga akhirnya melihat gedung gereja, melihat siapa pengkhotbahnya, lalu merasa sudah melakukan ibadah yang sejati. Kita tidak boleh jatuh kepada hal-hal seperti itu. Pada waktu anak-anak Tuhan mengalami penganiayaan dan tidak bisa lagi beribadah dengan leluasa, ketika mereka tidak bisa lagi memiliki gedung gereja, dan mungkin mereka tidak lagi punya seorang hamba Tuhan berada bersama-sama dengan mereka, lalu bagaimana? Sama halnya saat pandemi seperti ini juga banyak orang Kristen hanya bisa berbakti di rumah bersama suami, isteri dan anak-anak, lalu bagaimana? Justru kondisi dan situasi yang seperti ini menjadi satu pemurnian, satu pembuktian apakah ibadah itu lahir dari satu pengertian, yaitu kita beribadah dalam roh dan kebenaran, itu ibadah yang sejati. Ibadah merupakan respon kita kepada apa yang Tuhan Yesus sudah kerjakan dan lakukan dalam hidupmu, yang merubah hidupmu. Dan kita menjadikan hidup keluarga dan rumah tangga kita juga menjadi satu ibadah yang sejati. Dulu mungkin kita lebih bersandar kepada institusi gereja mendidik dan mengajar anak-anak kita. Sekarang selama pandemi ini terutama di Indonesia, hari Minggu, orang tua sendiri yang harus memimpin anak-anak beribadah di rumah. Tetapi tidakkah sdr ingat pada waktu bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, TUHAN Allah memerintahkan orang tua untuk mengajar anak-anaknya pada segala waktu dan kesempatan akan segala janji kesetiaan dan apa yang Tuhan sudah lakukan dalam hidup mereka? Tuhan menjadikan rumah tangga dan keluarga itu sebagai fondasi yang pertama bagi pendidikan anak-anaknya. Jangan kecewa kalau hari-hari ini engkau belum bisa ke gereja. Jangan marah dan merasa gereja tidak menyediakan program-program yang engkau mau, karena gerejamu mungkin terbatas, mungkin tidak punya cukup resources dan fasilitas, dan segalanya terbatas.
Ibrani 10:19-21 berkata, “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir yaitu diriNya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.” Apa yang Yesus Kristus sudah kerjakan menjadi fondasi yang penting mengenai ibadah kita. Pada waktu Yesus dipaku di kayu salib dan berseru, “Sudah selesai!” Matius 27:51 mencatat tirai atau tabir di Bait Allah robek terbelah dua dan yang membelahnya adalah Yesus Kristus, sehingga kita punya akses masuk ke dalam tempat yang maha kudus. Betapa luar biasa karya Kristus itu bagi kita!
Maka penulis Ibrani mengajak jemaat, “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.” Di dalam Kristus, kita semua bisa menghadap Allah. Kalau di Bait Allah di Yerusalem, yang boleh masuk ke tempat maha kudus satu kali dalam setahun pada hari Yom Kippur atau hari Pendamaian hanya imam besar, sedangkan untuk ibadah daily offering hanya para imam yang masuk ke dalam ruang kudus untuk mengganti roti dan menyalakan lilin. Kita yang orang biasa hanya bisa berbakti di luar, untuk pria orang Yahudi di ruang depan, lalu untuk wanita Yahudi dan anak-anak di pelataran luar, dan untuk orang-orang bukan Yahudi di lapangan luar sekali bersama-sama dengan penukar uang dan penjual binatang untuk persembahan. Kemudian, konteks kebiasaan atau tradisi orang Yahudi setiap kali pergi berbakti di Bait Allah, di bagian luar mereka mempersembahkan korban, lalu mereka melakukan penyucian pembersihan membasuh diri dengan air. Setelah menjadi orang Kristen, ibadah begitu simple sederhana, masuk ke dalam rumah lalu sama-sama duduk berbakti. Mungkin karena merasa ibadahnya terlalu simple, akhirnya beberapa orang jadi mempertanyakan: apakah kita benar-benar masuk ke hadirat Tuhan? Perasaan ibadah yang di Bait Allah lebih megah, lebih meyakinkan.
Tetapi boleh dikatakan ibadah orang Kristen pada waktu itu adalah ibadah yang luar biasa revolusioner. Di mana revolusionernya? Pertama-tama, inilah yang dikatakan oleh Ibrani 10:19-20, ada dua hal yang menjadikan ibadah kita adalah ibadah yang sejati, karena: Pertama, sekarang kita punya jalan masuk bisa berdiri di hadapan Allah di tempat maha kudus dan memanggil Dia sebagai Bapa oleh karena Yesus Kristus telah menjadi pendamaian bagi kita melalui darahNya dicurahkan untuk kita. Engkau dan saya tidak perlu lagi imam besar sebagai pengantara yang mengantar kita masuk ke dalam tempat kudus itu. Yesus Kristus telah menjadi Imam Besar kita. Dan sekalipun ibadah orang Kristen waktu itu begitu sederhana, mungkin duduk di dapur, mungkin duduk di halaman pekarangan rumah seseorang Kristus waktu itu yang tentunya jelas adalah anak Tuhan yang lebih berada daripada yang lain, yang rumahnya cukup besar untuk mengadakan ibadah dan mungkin mereka beribadah dengan sembunyi-sembunyi oleh karena ada tekanan dan penganiayaan kepada orang-orang ini lalu mereka datang berbakti dan pada waktu mereka duduk, apa yang mereka lakukan? Mereka mendengarkan firman Tuhan, mereka berdoa, kemudian mereka memecahkan roti dan membagi makanan itu menjadi makanan mereka sama-sama.
Yang ke dua, waktu anak-anak Tuhan datang ke sebuah rumah menyembah Yesus Kristus, tidak ada pemisahan anak kecil dan orang dewasa; tidak ada pemisahan tuan dan budak; tidak ada pemisahan pria dan wanita. Mereka datang dan duduk beribadah sama-sama; tidak ada lagi separasi antara yang tuan, bangsawan dan pemilik rumah itu mungkin adalah orang-orang yang menduduki status sosial yang tinggi di masyarakat, tentara dengan pangkat yang tinggi; sekarang harus duduk bersama berdampingan dengan budaknya; berdampingan dengan orang-orang luar yang mungkin itu petani atau pekerja yang belum sempat mandi, dengan pakaian yang sederhana, janda, orang miskin, dsb. Itu adalah hal yang revolusioner pada waktu itu. Rasul Paulus berkata dalam surat Galatia 3:28, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Pada waktu kita datang berbakti sama-sama pada hari ini, tidak ada orang yang lebih tinggi derajatnya, tidak ada yang lebih dekat dengan Tuhan daripada orang Kristen yang lain karena kita punya Tuhan yang sama, kita punya Imam Besar yang sama, kita datang menyembah Allah bersama-sama.
Ada tiga hal yang kemudian muncul yang melalui ibadah itu, yang juga mengacu kepada tiga mutiara orang Kristen: iman, pengharapan, dan kasih. “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang kepada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya setia. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (Ibrani 10:22-24).
“Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni” (Ibrani 10:22). Hati nurani kita telah dibersihkan; ini adalah transformasi dari dalam ke luar [inside out]. Tubuh kita sudah dibasuh dengan air yang murni. Ingatkan latar belakang orang Kristen Yahudi yang mempunyai tradisi penyucian dengan air seperti itu, sekarang sebagai orang Kristen tidak lagi melakukan hal-hal itu karena kita percaya pembersihannya adalah dalam aspek spiritual, bukan aspek fisik; kita bersih oleh karena apa yang Yesus Kristus telah lakukan bagi kita.
Gereja harus melihat aspek spiritual ini yang penting. Jangan jadikan ibadah kepada Tuhan akhirnya hanya jatuh kepada hal yang eksternal, sehingga selesai ibadah, keluar dari ruangan ini, hati kita tidak diubah oleh firman Tuhan. Kita tidak mengalami transformasi dan perubahan. Apa gunanya?
The power of the true worship terjadi ketika orang-orang Kristen itu keluar dan menjadi anak-anak Tuhan yang passionate cinta Tuhan luar biasa, menjadi orang yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Tetapi kalau gereja hanya jatuh kepada hal-hal yang eksternal, dengan gedung yang megah, orang berbakti berpakaian bagus dan mewah, dengan mobil yang mahal, tetapi begitu selesai berbakti, orang-orang ini tetap tidak ada perubahan, mereka tidak mengalami kuasa ibadah dalam hidup mereka.
Tuhan sudah lakukan yang jauh lebih indah kepada engkau dan saya. Maka datang hampiri Dia berbakti dan beribadah. Yesus telah menjadi Imam Besar, bawa doamu dengan tulus dan sungguh, persembahkan tubuh dan jiwamu di hadapan Allah. Engkau tidak bisa datang berbakti ke dalam gedung gereja karena pandemi, itu juga menjadi satu pemurnian apakah tubuh kita menjadi bait Allah yang kudus ataukah justru karena engkau abai di dalam ibadah, itu menyebabkan orang tersandung melihat hidupmu tidak menjadi hidup yang memberkati. Iman kita kepada Tuhan tidak pernah abstrak tetapi menjadi konkrit dan nyata dari perubahan hidup kita. Iman itu bukan sekedar di dalam kata-kata tetapi dinyatakan dalam perbuatan. Itu hanya bisa terjadi bukan karena kita melihat hal yang di sini, tetapi karena kita memiliki mata iman yang melihat ke depan. Kita percaya kepada apa yang Tuhan Yesus sudah kerjakan di depan.
Yang ke dua, penulis Ibrani berkata, “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya setia” (Ibrani 10:23). Ini bicara mengenai ketekunan [perseverance]. Kita bisa memahami nasehat ini karena dari konteks latar belakangnya di Ibrani 10:32 dia berkata, “Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita.” Mereka berkorban dengan sukacita, sekalipun harta mereka dirampas, sekalipun mereka dijadikan tontonan umum, karena mereka tahu betapa berharganya upah yang menanti mereka kelak. Tidak mudah perjalanan iman mereka kalau penderitaan dan penganiayaan itu menjadi sesuatu yang terus-menerus berkepanjangan. Itu perlu perseverance, patience; ketekunan dan kesabaran. Waktu itu, ketika anak-anak Tuhan berbakti, sangat besar kemungkinan rumah-rumah yang dipakai adalah siapa yang memiliki rumah yang lebih besar dan tentu mereka adalah orang-orang yang lebih kaya yang bisa menampung banyak orang. Tetapi punya rumah yang besar, punya harta kekayaan, belum tentu punya hati yang berkorban, bukan? Yang ke dua, orang itu belum tentu mau menanggung resiko bagi Yesus Kristus. Dari ayat-ayat ini kita bisa melihat konteks kesulitan yang mereka alami sebagai anak-anak Tuhan pada waktu itu. Yang diambil hartanya, yang mengalami aniaya, yang rumahnya dirampas dan tidak punya apa-apa lagi, ke mana mereka pergi? Mereka hanya bisa berlindung dan menumpang di rumah-rumah dimana anak-anak Tuhan yang memiliki rumah yang besar bisa menampung dan menerima mereka tinggal di rumahnya. Ada resiko dan pengorbanan. Tetapi itulah kuasa Injil yang lebih besar daripada sekedar engkau datang berbakti di Bait Allah yang megah dan mewah, dan memberi persembahan korban dilihat orang. Apa yang mereka lakukan kelihatan seperti pengorbanan yang begitu besar dan membuat mata orang terbelalak kagum melihatnya. Tetapi orang yang diam-diam membuka rumahnya dan melayani saudara-saudara seiman yang lari dari penganiayaan, yang hartanya dirampas, yang menjadi tontonan dan hinaan, melakukan itu tanpa dilihat dan diperhatikan orang.
Yang terakhir, Ibrani 10:24 berkata, “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” And let us consider how to stir up one another to love and good works, terjemahan ESV. Men-“stir up” berarti memikirkan, berdebat, membuka diskusi dan sama-sama mencari jalan keluar dari persoalan, masalah, hambatan. Tetapi tujuannya bukan untuk memperkeruh situasi, bukan untuk mengeluh, bukan untuk menyesali, bukan untuk mengecewakan diri sendiri, melainkan untuk saling mendorong satu dengan yang lain, mari kita cari jalan keluar, mari kita lakukan bersama-sama, mari kita mengatasinya sama-sama. Di situlah hidup ibadah yang sejati menjadi indah. Penulis Ibrani sengaja memakai kata “kita,” berarti melibatkan semua orang percaya untuk berbagian di situ. Itulah natur sebuah gereja yang sehat. Kalau semua pelayanan hanya dilakukan oleh pendeta, sementara jemaat hanya menonton dan bersikap pasif, ibaratnya pendeta yang mendorong gerobak sementara semua jemaat naik di atasnya. Kalau pendetanya masih muda, dia punya kekuatan bisa terus mendorong gerobaknya. Kalau sudah tua, akhirnya mesti ganti pendeta yang baru supaya bisa kuat mendorongnya. Tetapi kalau semakin banyak yang duduk di atas gerobak itu, makin berat gerobaknya. Sebuah hidup gerejawi yang sehat itu harus seperti sebuah jam otomatik dimana satu gerakan akan menggerakkan yang lain, dan gerakan itu menggerakkan gerigi yang lain. Di situ pendeta hanya salah satu gerigi yang bergerak menggerakkan gerigi-gerigi yang lain.
Gereja di setiap jaman mempunyai persoalan masing-masing; setiap komunitas mempunyai hambatan dan kesulitan masing-masing. Dengan “stir up,” kita sama-sama cari jalan mengatasinya. Penulis Ibrani katakan, “to stir up one another in love and in good works.” Itu yang membuat the ibadah Gereja Mula-mula berbeda. Kenapa? Karena semua sama-sama melayani; ada yang kurang, ada yang miskin, ada yang sederhana, ada budak di situ, ada permpuan, ada laki-laki, ada latar belakang pendidikan yang berbeda, dsb. Mereka kumpul dan menjadi satu komunitas yang stir up satu dengan yang lain dalam kasih dan pekerjaan baik.
Pasal ini ditutup dengan kalimat, “Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup” (Ibrani 10:39). Dalam terjemahan NIV, “But we do not belong to those who shrink back and are destroyed, but to those who have faith and are saved.” Kata “shrink back,” menjadi ciut. Menjadikan ibadah hanya sesuatu yang eksklusif, urusan hubungan saya dengan Tuhan, lalu selesai. Akhirnya kita tidak maju dan hanya berpusat kepada diri. Kontras dengan metafora “stir up” itu bikin adonan menjadi mengembang, kuat, lebih bergerak. Ketika ada hambatan, kesusahan, kesulitan, kita juga bisa cenderung shrink back, kita menjadi ciut, kita menjadi takut, menjadi panik, dsb. Maka Ibrani 10:25 mengingatkan, “Janganlah kamu menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Saat pandemi seperti ini, bisa jadi sdr tinggal di rumah entah sampai berapa lama, ibadah hanya online di rumah, akhirnya kita bisa kehilangan jiwa berkomunitas, bagaimana iman kita secara pribadi bersama dengan Tuhan itu menjadi beneficial secara community.
Ayo, bagaimana menghadapi kesusahan kesulitan pandemi seperti begini? Kita mungkin tidak bisa melakukan pelayanan secara normal seperti dulu. Tetapi kita bisa melakukan banyak hal yang lain. Tuhan beri kita masing-masing bijaksana. Mungkin ada tetangga yang sdr kenal sedang ada persoalan, ajak dia berdoa, baca Alkitab one to one dengan dia. Jadi tidak melulu berpikir melayani, mengabarkan Injil hanya goal ajak orang ke gereja. Bisa jadi pandemi ini tidak akan berlalu sampai tahun depan, kita harus memikirkan bagaimana menavigasi pelayanan dalam situasi seperti ini. Pelayanan gereja kita mungkin ciut dalam arti kata tidak banyak orang yang bisa melayani, aktifitas yang kita lakukan lebih sedikit, itu tidak membuat kita kemudian melihat dan memikirkan apa yang engkau dan saya bisa kerjakan sama-sama. Tuhan pasti akan memberi bijaksana kepada orang yang memang memiliki hati yang memikirkan apa yang Tuhan mau, dan saya harap itu ada dalam hati kita masing-masing. mari kita mensupport satu dengan yang lain. Saya harap kita tidak hanya menanti dan menunggu lalu kemudian shrinking back. Mari kita aplikasikan apa saja yang bisa kita lakukan sama-sama.
Kiranya firman Tuhan mengingatkan kita mengenai iman, mengenai pengharapan, dan mengenai kasih kita, mengenai apa yang Tuhan Yesus Kristus telah kerjakan dalam hidup kita sehingga kita boleh menyembah dan berbakti kepada Allah yang hidup. Kiranya ibadah kita menjadi satu ibadah yang mempengaruhi hidup kita dan hidup banyak orang, sebab itu lahir dari pekerjaan Roh Allah yang merubah hati kita, yang juga akan merubah keluarga kita, yang akan merubah lingkungan dimana saja kita berada. Gerakkan dan doronglah, stir up satu dengan yang lain di dalam kasih dan di dalam perbuatan baik, supaya dunia ini tahu bahwa pada waktu anak-anak Tuhan mengalami kesusahan dan kesulitan, kita menjadi orang yang menawarkan jalan keluar pengharapan di dalam Tuhan.(kz)
